Perdebatan Desain Perangkat Lunak: "Clean Code" vs "A Philosophy of Software Design" Memicu Diskusi di Kalangan Pengembang

BigGo Editorial Team
Perdebatan Desain Perangkat Lunak: "Clean Code" vs "A Philosophy of Software Design" Memicu Diskusi di Kalangan Pengembang

Komunitas pengembangan perangkat lunak sedang aktif mendiskusikan perdebatan menarik antara dua tokoh berpengaruh dalam desain perangkat lunak: Robert Uncle Bob Martin, penulis Clean Code, dan John Ousterhout, penulis A Philosophy of Software Design. Diskusi mereka telah memicu banyak komentar tentang pendekatan fundamental dalam pengembangan perangkat lunak dan praktik terbaik.

Dilema Dogma

Salah satu poin diskusi yang paling menonjol berpusat pada persepsi kekakuan prinsip-prinsip Clean Code. Banyak pengembang mengungkapkan kekhawatiran tentang penerapan dogmatis aturan-aturan, terutama mengenai panjang fungsi dan praktik pemberian komentar. Komunitas menyoroti bagaimana kepatuhan ketat pada prinsip seperti fungsi harus sepanjang 2-4 baris dapat menyebabkan apa yang disebut beberapa pengembang sebagai kode lasagna - beberapa lapisan abstraksi tipis yang memperumit daripada memperjelas basis kode.

Bagi saya, tujuan fundamental dari desain perangkat lunak adalah untuk memudahkan pemahaman dan modifikasi sistem. Saya menggunakan istilah 'kompleksitas' untuk merujuk pada hal-hal yang mempersulit pemahaman dan modifikasi sistem.

Poin-Poin Pertentangan Utama:

  • Panjang fungsi (Clean Code: 2-4 baris vs. pendekatan kontekstual)
  • Penggunaan komentar (minimal vs. dokumentasi yang bertujuan)
  • Prinsip abstraksi (aturan kaku vs. pengukuran rasio kompleksitas)
  • Pendekatan pengembangan (preskriptif vs. berbasis bukti)

Peran Komentar

Poin perdebatan signifikan berkisar pada perlakuan terhadap komentar kode. Sementara Clean Code menganjurkan kode yang self-documenting dengan komentar minimal, banyak pengembang berpendapat tentang peran penting komentar dalam menjelaskan alasan di balik keputusan kode, terutama ketika berurusan dengan sistem eksternal, antarmuka perangkat keras, atau proses yang kontra-intuitif. Komunitas secara khusus menekankan nilai komentar dalam mendokumentasikan workaround, persyaratan timing, dan perilaku spesifik sistem yang tidak dapat disampaikan secara efektif melalui nama metode saja.

Pendekatan Berbasis Bukti

A Philosophy of Software Design karya Ousterhout telah mendapatkan perhatian khusus karena pendekatan berbasis bukti yang lebih kuat terhadap prinsip-prinsip desain perangkat lunak. Buku ini memperkenalkan konsep pengukuran kualitas abstraksi melalui rasio kompleksitas yang terkandung versus kompleksitas antarmuka. Heuristik praktis ini telah mendapat sambutan dari banyak pengembang yang menganggapnya memberikan kerangka kerja yang lebih fleksibel dan pragmatis untuk membuat keputusan desain.

Evolusi Pemikiran Pengembang

Sebuah pola menarik muncul dari diskusi ini: banyak pengembang menggambarkan perjalanan dari awalnya merangkul pedoman ketat Clean Code hingga akhirnya mengadopsi pendekatan desain perangkat lunak yang lebih bernuansa dan sadar konteks. Evolusi ini biasanya memakan waktu sekitar lima tahun, menunjukkan bahwa sementara aturan preskriptif mungkin bermanfaat bagi pemula, pengembang berpengalaman cenderung memilih solusi yang lebih fleksibel dan bergantung pada situasi.

Sebagai kesimpulan, meskipun kedua buku telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pemikiran desain perangkat lunak, komunitas semakin menganjurkan pendekatan yang seimbang yang mempertimbangkan konteks, kepraktisan, dan kebutuhan spesifik dari setiap proyek daripada mengikuti aturan yang kaku. Perdebatan ini menyoroti evolusi berkelanjutan dari prinsip-prinsip desain perangkat lunak dan pentingnya mempertahankan fleksibilitas pragmatis dalam praktik pengembangan.

Referensi: Introductions