Tesla sedang menghadapi salah satu periode paling menantang karena produsen kendaraan listrik tersebut melaporkan angka penjualan kuartal terburuk dalam hampir tiga tahun. Saham perusahaan mengalami pukulan signifikan karena investor bergulat dengan kekhawatiran tentang kerusakan merek dan menurunnya minat konsumen, diperburuk oleh keterlibatan mendalam CEO Elon Musk dalam politik.
![]() |
---|
Grafik performa saham Tesla Inc yang menunjukkan penurunan signifikan setelah laporan penjualan kuartal yang buruk |
Angka Pengiriman Q1 yang Mengecewakan
Tesla mengejutkan para pemegang saham dengan penurunan 13% dalam pengiriman kendaraan untuk kuartal pertama tahun 2025, menandai kinerja penjualan kuartal terburuk sejak musim semi 2022. Perusahaan hanya mengirimkan 355.041 kendaraan, jauh di bawah bahkan perkiraan analis yang paling pesimis. JPMorgan, yang memiliki estimasi pasar terendah pada 355.041 pengiriman, menggambarkan situasi ini sebagai mencerminkan kerusakan merek yang belum pernah terjadi sebelumnya pada merek Tesla. Bank investasi tersebut mempertahankan peringkat Underweight pada saham Tesla dengan target harga 120 dolar—kurang dari setengah harga saham perusahaan saat ini.
Kinerja Tesla Q1 2025:
- Pengiriman: 355.041 kendaraan (penurunan 13%)
- Penjualan kuartal terburuk sejak musim semi 2022
- Target harga JPMorgan: $120 (harga saat ini sekitar $240)
- Perkiraan EPS Q1 JPMorgan: Diturunkan dari $0,40 menjadi $0,36
- Perkiraan EPS tahunan JPMorgan: Diturunkan dari $2,35 menjadi $2,30
- Revisi prospek pengiriman: 404 ribu di Q2 (turun dari 418 ribu), 1,715 juta di tahun fiskal 2025 (turun dari 1,775 juta)
Reaksi Pasar Saham
Reaksi investor cepat dan parah. Saham Tesla anjlok 5,6% setelah laporan pengiriman, memperpanjang masalah perusahaan di tahun 2025. Saham tersebut sempat menguat pada awal pekan, naik 5% setelah laporan menyebutkan bahwa Musk mungkin akan mundur dari peran pemerintahannya untuk kembali fokus pada Tesla. Namun, keuntungan ini dengan cepat menguap, dengan saham turun 3,5% dalam perdagangan setelah jam kerja ketika Musk membantah laporan tersebut sebagai berita palsu. Volatilitas ini menyoroti betapa eratnya kinerja pasar Tesla telah terkait dengan aktivitas politik Musk.
Keterkaitan Politik dan Dampak Merek
Keterlibatan politik Elon Musk yang semakin meningkat tampaknya berdampak pada merek Tesla. Sebagai kepala satuan tugas efisiensi pemerintahan Presiden Trump (DOGE), Musk telah menghabiskan banyak waktu di Washington daripada fokus pada bisnis otomotifnya yang sedang berjuang. Upaya politiknya baru-baru ini sangat mahal—baik secara finansial maupun reputasi. Musk menghabiskan hampir 25 juta dolar untuk mendukung kandidat sayap kanan Brad Schimel dalam pemilihan mahkamah agung negara bagian Wisconsin, membingkai pemilihan tersebut dalam istilah apokaliptik sebagai mempengaruhi seluruh takdir kemanusiaan. Kekalahan Schimel selanjutnya dari hakim liberal Susan Crawford telah dipandang oleh banyak pengamat politik sebagai referendum tentang Musk dan inisiatif DOGE-nya.
Reaksi Negatif Konsumen
Reaksi konsumen terhadap aktivitas politik Musk cukup parah sehingga mendorong analis JPMorgan untuk bertanya-tanya apakah mereka mungkin telah meremehkan tingkat reaksi konsumen terhadap mobil Tesla. Laporan tentang boikot anti-Tesla telah muncul, dengan beberapa pemilik Tesla dilaporkan takut meninggalkan kendaraan mereka tanpa pengawasan karena kekhawatiran vandalisme. Analis Wedbush Dan Ives, yang biasanya optimis tentang Tesla, telah memperingatkan bahwa protes besar yang meledak secara global di dealer Tesla, mobil Tesla yang dirusak dan tornado krisis merek yang penuh menciptakan awan hitam gelap di atas saham Tesla.
Revisi Prospek
JPMorgan telah menurunkan estimasi laba per saham untuk Tesla menjadi 0,36 dolar dari 0,40 dolar untuk Q1 dan menjadi 2,30 dolar dari 2,35 dolar untuk tahun fiskal. Bank tersebut juga menurunkan prospek pengirimannya menjadi 404.000 kendaraan di Q2 2025 (turun dari sebelumnya 418.000) dan 1.715.000 untuk seluruh tahun fiskal 2025 (turun dari 1.775.000). Sementara beberapa analis menunjuk pada peningkatan produksi sebagai sebagian penyebab pengurangan output, tingkat kekurangan pengiriman menunjukkan masalah yang lebih dalam dengan permintaan konsumen.
Tantangan Masa Depan
Tesla menghadapi tantangan tambahan dari kebijakan tarif Presiden Trump, meskipun analis telah menyarankan bahwa perusahaan mungkin agak terlindungi dibandingkan dengan perusahaan lain. Sementara itu, Musk terus mempromosikan teknologi masa depan Tesla, baru-baru ini memberitahu staf bahwa mereka akan membuat sejarah dengan mengubah sumber daya yang langka menjadi kelimpahan yang berkelanjutan tanpa batas dan menjanjikan masa depan di mana orang-orang secara harfiah dapat memiliki apa pun yang mereka inginkan. Namun, dengan bisnis otomotif inti perusahaan menunjukkan tanda-tanda kesulitan yang signifikan, investor semakin menuntut agar Musk memfokuskan kembali perhatiannya pada Tesla daripada ambisi politiknya.